UnsurEkstrinsik Novel Azab Dan Sengsara. analisis novel (sang penandai) karya: tere liye. muhammad ridho alfiansyah (x-ipa 2) Watch Now. analisis cerpen (tak ada yang mencintaimu seperti aku) muhammad ridho alfiansyah (x-ipa 2) Watch Now. Sephi, resensi novel " Sengsara Membawa Nikmat " (Tulis St. Sati ) Watch Now. AzabDan Sengsara merupakan novel karangan Merari Siregar yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka tahun 1921 dan berikutnya mengalami beberapa kali cetak ulang. Cetak ulang ke-29 tahun 2009. Novel itu muncul pertama kali dengan judul Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis.Pada edisi selanjutnya anak judul "Seorang Anak Gadis" tidak disertakan lagi. Analisispsikologis pelaku- pelakunya belum dilukiskan secara mendalam. Yang mengarah pada usaha ini ialah novel Katak Hendak Jadi Lembu karangan Nur Sutan Iskandar. Novel Azab dan Sengsara menggunakan subjudul Kisah Kehidupan Seorang Anak Gadis. (5)SASTRA PERIODE TAHUN ’20 DI LUAR BALAI PUSTAKA. A. Karangan – Karangan yang Bertendens NovelAzab dan Sengsara di Tokopedia βˆ™ Promo Pengguna Baru βˆ™ Cicilan 0% βˆ™ Kurir Instan. RCTVSMP KELAS 9 - 14 OKTOBER 2020 Azab Dan Sengsara Merari Siregar Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar bertemakan tentang Kawin Paksa. Ketika perjodohan anak muda masih ditentukan oleh orang tua mereka. Cinta yang tak sampai antara kedua anak muda (Aminuddin dan Mariamin), karena rintangan orang tua. UnsurIntrinsik Novel. Unsur intrinsik novel merupakan unsur utama yang membangun novel dari dalam. Bisa dikatakan bahwa unsur intrinsik adalah unsur dalam cerita itu sendiri. Unsur tersebut tidak hanya satu, namuan ada banyak. Ada beberapa sub bagian yang mempunyai porsi tersendiri. 1. Tema. Tema merupakan ide atau gagasan utama dari sebuah novel. AnalisisNovel Sengsara Membawa Nikmat SerbA serbi April 16th, 2019 - Novel Sengsara Membawa Nikmat dianggap karya yang paling bernilai dari karya Tulis Sutan Sati Novel ini memperincikan tentang kehidupan masyarakat Minangkabau pada tahun 1920 an Menurut A Teeuw novel ini sangat menarik kerana hidup dan lincahnya si pengarang membawa Analisisdilakukan dengan cara analisis isi terhadap drama berjudul β€œAntara Bumi dan Langit (Kemuning di Waktu Dahulu)” dan novel Belenggu berdasarkan pada aspek-aspek yang membangun karya sastra. Aspek-aspek kedua karya tersebut kemudian dibandingkan untuk melihat persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya. Novel Belenggu Hubungan 7ugD1V0. PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA DALAM KAJIAN NOVEL AZAB DAN SENGSARA KARYA MERARI SIREGAR Abstract Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkaji isi cerita dalam novel azab dan sengsara karya Merari Siregar. Kajian ini, bertujuan menganalisis sosiologi pengarang, sosiologi karya, dan sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra. Dalam sosiologi pengarang ditelaah latar belakang sosial, status sosial pengarang, dan ideologi pengarang yang terlibat dari berbagai kegiatan pengarang diluar karya sastra. Dalam sosiologi karya ditelaah isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Dalam sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra ditelaah sejauhmana sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial. Sosiologi sastra merupakan pendekatan dalam karya sastra sekaligus nilai ekstrinsik yang terdapat dalam karya sastra. Nilai sosiologi sastra merupakan nilai yang berhubungan dengan latar sosial dan sikap dalam tokoh cerita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif, yakni metode yang menggambarkan dan menganalisis setiap bagian isi dalam hubungannya dengan sosiologi pengarang, sosiologi karya dan sosiologi pembaca References Moleong, Lexy J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung PT Remaja Rosdakarya. Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta Gadjah Mada University Press. Rafiek, M. 2013. Teori Sastra Kajian Teori dan Praktik. Bandung PT. Refika Aditama. Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Jakarta PT. Balai Pustaka. Vismaia & Syamsuddin. 2003. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung PT. Remaja Rosdakarya. Wellek, Rene & Warren Austin. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta Gramedia. Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta Pustaka DOI DOI PDF Refbacks There are currently no refbacks. Jurnal Caraka is sebuah jurnal ilmiah yang secara reguler dipublikasikan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Pendidikan Indonesia Jl. Pahlawan Garut,Indonesia. Jurnal Caraka berlisensi di bawah Creative Commons Attribution-ShareAlike International License. Copyright Β© Institut Pendidikan Indonesia-Garut. Perhatian masyarakat sastra Indonesia terhadap masalah sejarah kebudayaan, termasuk sastra telah tampak sejak awal pertumbuhan sastra Indonesia di tahun 1930-an sebagaimana terbaca dalam Polemik Kebuadayaan suntingan Achdiat 1977. Polemic yang berkembang antara tokoh-tokoh Alisjahbana, Sanusi Pane, Poerbatjaraka, Ki Hadjar Dewantara, Adinegoro dan lain-lain memang tidak secara khusus memperdebatkan konsep kesusastraan Indonesia, tetapi telah memperlihatkan kesadaran mereka terhadap sejarah kebudayaan Indonesia. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Novel "Azab dan Sengsara" karya Merari Siregar merupakan novel klasik dari tahun 1920. Melalui novel ini, sang pengarang ingin menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik di daerahnya menggunakan cerita mengenai kesengsaraan gadis yang diakibatkan oleh adat dan kebiasaan tersebut. Walaupun cerita yang ia tuliskan dalam novel ini terlihat tidak nyata dan dibuat-buat, tetapi sebenarnya ia menuliskannya sesuai dengan fakta yang ada. Novel ini juga dianggap sebagai tonggak lahirnya novel modern di Indonesia karena sudah tidak lagi berbentuk hikayat. Meskipun demikian, di dalam novel ini tetap mengangkat persoalan kehidupan sehari-hari sama halnya dengan hikayat. Namun yang membedakan adalah ditampilkannya unsur-unsur kritik lebih terperinci, novel ini mengisahkan kisah cinta antara Aminuddin dan Mariamin, keduanya berasal dari daerah Sipirok, Tapanuli, Sumatera Utara, tetapi dari keluarga yang cukup berbeda dalam segi status sosial. Tentu kisah cintanya tidak luput dari berbagai konflik dan komplikasi, mulai dari perbedaan status sosial, kehadiran peramal, tipu muslihat, kecemburuan, paksaan, siksa, perceraian, hingga diakhiri dengan ajal Mariamin. Seluruh konflik tersebut pun terjadi diakibatkan oleh adanya kepercayaan pada adat dan kebiasaan setempat yang sangat kuat di masyarakat. Beberapa di antaranya adalah sistem perjodohan, sikap materialistis, dan kepercayaan pada dukun. Hal-hal tersebut pun masih kerap terjadi hingga zaman milenial ini, tidak hanya di daerah, tetapi bahkan juga di perkotaan besar. Oleh karena kayanya kandungan nilai sosial budaya yang relevan dalam hidup keseharian orang dan ingin disampaikan oleh pengarang, novel "Azab dan Sengsara" akan sangat cocok dianalisis menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam novel "Azab dan Sengsara" secara khusus pengarang ingin menunjukkan adat dan kebiasaan sosial budaya di daerah setempatnya, yaitu adat-istiadat Batak Angkola. Selain itu pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Sehingga semakin banyak nilai-nilai yang didapatkan oleh pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut. Dalam novel "Azab dan Sengsara", kebiasaan yang sangat ingin perlihatkan oleh pengarang adalah kawin paksa dalam adat Minangkabau. Masyarakat Tapanuli pada tahun 1920-an sangat memperhatikan tentang perkawinan. Pada zaman itu, masyarakat akan memandang jelek jika seorang anak perempuan tidak cepat-cepat memiliki suami. Sehingga para orang tua akan menyuruh anaknya untuk kawin dengan laki-laki yang mereka anggap dapat memberikan keberuntungan bagi anak perempuannya. Sang anak pun tidak dapat menolak, walaupun ia tahu ia tidak akan bahagia. Hal-hal tersebut pun berkali-kali disebutkan pada novel "Nyata sekarang betapa berbahayanya perkawinan yang dipaksakan itu, yang tiada disertai kasih keduanya. Maka jadi kewajibanlah bagi tiap-tiap orang yang tahu akan membuangkan adat itu dan kebiasaaan yang mendatangkan kecelakaan kepada manusia itu. Bukankah perkawinan yang lekas-lekas itu membinasakan perempuan? Ia dikawinkan oleh orang tuanya dengan orang yang disukainya" Siregar, 1936, hal. 67"Karena bolehlah nanti di belakang hari mendatangkan malu, apabila anaknya itu tiada dipersuamikan. Orang yang tinggal gadis itu menjadi gamit-gamitan dan kata-kataan orang." Siregar, 1936, hal. 162Kawin paksa pun tidak hanya dialami oleh Mariamin sebagai seorang perempuan, tetapi juga terhadap Aminuddin. Hal tersebut terjadi karena tuntutan ayah Aminuddin, Baginda Di Atas, yang merupakan seorang kepala kampung dan memiliki status sosial yang cukup tinggi. Walaupun Aminuddin sudah mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia menginginkan Mariamin menjadi istrinya, tetapi karena ayahnya berkehendak lain, maka hal itu tentu tidak dapat terwujud. Ayah Aminuddin tidak menginginkan perkawinan Aminuddin dan Mariamin terjadi karena adanya kesenjangan sosial di antara kedua keluarga, sehingga ia merasa Mariamin tidak pantas untuk Aminuddin."Benar perbuatan kami ini tiada sebagai permintaan Ananda, tetap janganlah anakku lupakan kesenangan dan keselamatan anak itulah yang dipikirkan oleh kami orang tuamu. Oleh sebab itu haruslah anak itu menurut kehendak orang tuanya kalau ia hendak selamat di dunia. Itu pun harapan bapak dan ibumu serta sekalian kaum-kaum kita anakku akan menurut permintaan kami yakni ananda terimalah menantu Ayahanda yang kubawa ini!" Siregar, 1936, hal. 151-152 Perbuatan-perbuatan kedua orang tua Aminuddin dan Mariamin sebenarnya memiliki maksud yang baik. Mereka menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya yang sesuai dengan adat dan kebiasaan agar tidak dipandang jelek oleh masyarakat sekitarnya. Namun akibatnya justru menyebabkan kesengsaraan yang dialami turun-temurun. Kawin paksa dan perjodohan menyebabkan kebahagiaan para anak muda menjadi diabaikan. Tidak sedikit masyarakat pun yang dijodohkan di bawah umur. Ketidakbahagiaan itu sangat terlihat dalam kehidupan Mariamin. Suaminya seringkali memaksa Mariamin untuk melakukan hal yang tidak ia ingin lakukan dan menyiksanya. Perlakuan itu amat sering diulang, dapat dibuktikan melalui kutipan berikut"Pertengkaran yang serupa itu kerap kali kejadian di antara mereka itu, sehingga akhir-akhirnya Kasibun yang bengis itu tak segan menampar muka Mariamin. Bukan ditamparnya saja, kadang-kadang dipukulnya, disiksainya..." Siregar, 1936, hal. 178Kutipan di atas membuktikan bahwa kebiasaan kawin paksa yang dilakukan masyarakat setempat itu kurang baik. Perkawinan yang seharusnya membawa kebahagiaan bagi kedua belah pihak, justru dijadikan seperti dagangan dan menjadi sengsara. Kebiasaan kawin paksa itu seringkali dilakukan oleh para orang tua karena gengsi. Perilaku tersebut memang sangat kuat melekat pada manusia. Manusia tidak ingin dinilai jelek oleh orang-orang di sekitarnya, hingga berbuat apapun demi kepuasan sendiri. Tentu hal itu tidak benar karena setiap manusia memiliki sudut pandang dan jalan yang berbeda-beda, sehingga orang-orang disekitarnya tidak dapat memaksakan kehendaknya bahkan orang tuanya sekali pun. Satu hal yang bisa dilakukan orang tua adalah cukup menasihati anaknya. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya